Novel Islami

  • Halaman: 1
  • Ibrahim Ibn Adham, Sang Pangeran Pengembara Tanpa Alas Kaki {Sebuah Novel Sufistik}

    Novel Islami

    Tersebutlah seorang pangeran yang gemar menghabiskan setiap malamnya dengan pesta-pora. Istananya lebih hidup dan meriah pada malam hari. Sang pangeran baru akan tidur menjelang pagi dan akan bangun saat matahari terbenam, sampai-sampai ia hampir tak pernah melihat sinar matahari. “Aneh sekali. Aku tidak pernah melihat bagaimana rupa bunga-bunga ini saat tersinari matahari,” katanya suatu malam saat ia berjalan-jalan di taman.

     

    Sampai suatu saat pangeran bertemu dengan seorang darwis yang mengubah hidup sang pangeran untuk selamanya. 

     

    Singkat cerita, pangeran memilih hidup bersama para darwis dalam asketisisme. Ia pun tersadar akan kezalimannya sebagai pangeran selama ini. Namun demikian, sang pangeran tetap mengatur kerajaan dengan cara berkirim surat kepada panglima kepercayaannya. Tapi, istana telah berubah. Sang putra pangeran yang kini telah dewasa rupanya berhasrat merebut kekuasaan. Ia memenjarakan panglima kepercayaan pangeran dan menggantikannya dengan panglima baru yang ambisius. Mereka berkonspirasi untuk melakukan kudeta: memburu dan membunuh sang pangeran lalu mengumumkan kebohongan bahwa sang pangeran meninggal saat berburu.

     

    Novel ini berkisah tentang Ibrahim ibn Adham, salah satu tokoh sufi paling terkenal. Ia sosok historis yang hidup pada abad kedelapan dan begitu melegenda. Penggalan-penggalan kisah sufistik dan mistik tentangnya banyak beredar di masyarakat. Bagaimana pandangan novel ini tentang hal itu?

    Harga:Rp. 30.000,-»27.000,-
  • Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel Biografi Ibnu Sina

    Novel Islami|Sejarah / Biografi

    Buku ini mengurai rekam-jejak perjalanan hidup dokter-filsuf muslim terkemuka, Ibnu Sina (908–1037), sejak masa kecil di Bukhara hingga ia bersentuhan dengan penguasa, dan hidup dari istana ke istana sebagai dokter pribadi sultan. Sebagaimana harga yang mesti dibayar oleh cendekiawan yang menceburkan diri ke dalam kubangan kekuasaan, Ibnu Sina berhadapan dengan siasat jahat, tipu-daya, dendam-kesumat akibat kedengkian para petinggi istana lantaran perhatian khusus yang diperolehnya dari sultan.
     
    Bermusim-musim ia hidup dalam kejaran Mahmud Ghaznawi, penguasa Turki yang menjanjikan hadiah 5.000 keping emas bagi yang berhasil membekuk as-Syaikh ar-Rais itu hidup-hidup. Dari istana Ibnu al-Ma’mun (Gurganj) ia menantang terjangan badai di sahara Khawaran. Abu Sahl, sejawat karibnya tewas, hingga ia menggelandang seorang diri.

    Lepas dari sebuah kesulitan, Ibnu Sina dihadapkan pada intrik-intrik politik yang jauh lebih menyakitkan. Saat menjabat sebagai perdana menteri di pemerintahan Syams ad-Daulah (Hamdan), ia nyaris terbunuh lantaran kebijakannya dianggap tidak berpihak pada angkatan bersenjata, dan pada masa kekuasaan Ala ad-Daulah, ia harus mendekam di penjara berlapis tujuh.  Namun, dalam kekalutan dan ketidaknyamanan itulah Ibnu Sina melahirkan magnum opus Al-Qânûn fî at-Thibb dan As-Syifâ’ yang telah menggemparkan khazanah keilmuan—khususnya kedokteran—di seluruh belahan dunia.

    Harga:Rp. 35.000,-
  • Halaman: 1